Sunday, February 26, 2012

~ permasalahan : mendoakan orang bukan Islam ~


Doa adalah salah satu bentuk ibadat dalam Islam dan ia berperanan sebagai sikap untuk menzahirkan rasa tunduk dan rendah diri kepada Allah S.W.T. dan sebagai perantara untuk memohon pertolongan daripada Allah S.W.T. Begitu juga doa adalah salah satu senjata orang Islam ketika dalam keadaan susah dan getir seperti dalam peperangan menentang orang kafir atau ketika kita diserang oleh mereka. Selain itu, kita digalakkan untuk mendoakan kebaikan sesama muslim agar kita semua sentiasa berada dalam naungan rahmat Allah S.W.T.

Persoalan - Adakah orang Islam dibenarkan untuk mendoakan kepada orang bukan Islam?


Jawapan : Dalam menjawab persoalan ini, para ulama’ telah meletakkan beberapa perbahasan seperti berikut :

1. Haram – Gambaran doa :-

· Doa kepada orang bukan Islam yang telah meninggal dunia.
· Doa supaya mereka mendapat kebaikan di akhirat seperti syurga, keredhaan Allah dan sebagainya dalam keadaan mereka masih kafir ketika di dunia.

Ini jelas dengan dalil-dalil di bawah :-

Pertama : Al-Quran

Maksud firman Allah :-

Tiadalah sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. ( Surah At-Taubah 113 )

Berdasarkan ayat ini, jelaslah bahawa Allah S.W.T. melarang Nabi dan orang beriman mendoakan kebaikan kepada orang kafir yang telah meninggal dunia. Ini kerana Allah sama sekali Allah tidak akan mengampunkan dosa orang yang mensyirikkan Allah seperti mana firmanNya dalam Surah An-Nisa’ :

Maksud firman Allah :-

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah tersesat sejauh-jauhnya.(Surah An-Nisa’ ayat 116)
Begitu juga keadaan yang berlaku kepada Nabi Ibrahim, apabila Allah melarangnya daripada mendoakan dan meminta keampunan bagi ayahnya yang telah jelas kafir seperti firman Allah dalam surah At-Taubah:-

Maksud Firman Allah :-

Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah Karena suatu janji yang Telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, Maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat Lembut hatinya lagi Penyantun.( Surah At-Taubah ayat 114)

Kedua : Hadis Nabi


لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ وَعَبْدَ اللَّهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَ عِنْدَهُ الْمُغِيرَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ لِأَبِي طَالِبٍ يَا عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ فَقَالَ أَبُو إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا وَيَعُودَانِ بِتِلْكَ الْمَقَالَةِ حَتَّى الْمُطَّلِبِ وَأَبَى أَنْ يَقُولَ كَلَّمَهُمْ هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَقَالَ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا وَاللَّهِ تَعَالَى فِيهِ مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ أُنْهَ عَنْكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ ما كان للنبي وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ.

Ertinya : Ketika menjelang kematian Abu Thalib, datanglah Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam dan didapati di samping Abu Thalib ada Abu Jahal bin Hisyam dan Abdullah bin Abi Umayyah bin Mughirah. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda kepada Abu Thalib: “Pamanku, ucapkanlah Laa ilaha illa Allah, suatu kalimat yang aku akan bersaksi di hadapan Allah ta’aala untuk melindungimu”. Maka Abu Jahal dan Abi Ummayyah berkata: “Hai Abu Thalib, apakah engkau tidak suka dengan agama nenek-moyang kita Abdul Muthallib?” Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam terus mengajak Abu Thalib mengucapkan kalimat tauhid. Dan kedua orang itupun terus mengucapkan kalimat mereka. Sehingga akhir ucapan Abu Thalib adalah ucapan mereka bahwa ia tetap mengikuti agama Abdul Muthallib (menyembah berhala/agama kemusyrikan) dan ia enggan mengucapkan Laa ilaha illa Allah. Maka bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Demi Allah Ta’ala, akan kumintakan ampunan Allah Ta’ala atasmu selagi Allah Ta’ala tidak melarangnya… lalu Allah Ta’ala menurunkan surah At-Taubah ayat 113.”

ما كان للنبي وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

”Tiadalah sepatutnya bagi Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah Ta’ala) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS At-Taubah ayat 113) - (HR Bukhary 5/146)

Hadis di atas jelas menunjukkan Allah S.W.T. melarang Nabi S.A.W. memohon keampunan kepada mereka yang kafir kepadaNya walaupun mereka di kalangan kaum kerabat baginda sendiri.

Ketiga : Para Ulama’
Imam ibnu Hajar Al-Haitami menulis dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj :-

حرم الدعاء بأخروي لكافر، وكذا من شك في إسلامه، ولو من والديه

Ertinya : Haram berdoa berkenaan apa-apa urusan berkaitan akhirat untuk orang bukan Islam, demikian bagi mereka yang terdapat syak pada status Islamnya walau mereka itu ibubapanya.


No comments:

Post a Comment